TEKNIK-TEKNIK KONSELING
TEKNIK MODELLING
A. KONSEP DASAR TEKNIK
Modeling merupakan salah satu teknik konseling yang dikembangkan oleh Albert Bandura yang berakar dari teori belajar sosial (sosial lerning). Menurut Bandura (dalam Corey, 2007:221) teknik modeling merupakan observasi permodelan, mengobservasi seseorang lainnya sehingga seseorang tersebut membentuk ide dan tingkah laku, kemudian dijelaskan sebagai panduan untuk bertindak. Bandura juga menegaskan bahwa modeling merupakan konsekuensi perilaku meniru orang lain dari pengalaman baik pengalaman langsung maupun tidak langsun, sehingga reaksi-reaksi emosional dan rasa takut seseorang dapat dihapuskan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Cornier-cornier dalam Abimanyu (1996:256) mengartikan modeling sebagai prosedur dimana seseorang dapat belajar melalui mengobservasi tingkah laku orang lain, sebagai strategi terapi untuk membantu klien memperoleh respon atau mnghilangkan rasa takut.
Sedangkan Gantina Komalasari dkk (2011:176) mengartikan modeling merupakan belajar melalui observasi dengan menambahkan atau mengurangi tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, dan melibatkan proses kognitif.
Modeling sebagai suatu proses pemadatan sekuensi ide dan tingkah laku yang memungkinkan seseorang menyelesaikan suatu tugas. Dalam belajar, modeling merupakan basis percepatan belajar juga merupakan suatu konsep bagi proses memproduksi/membentuk perilaku yang dipelajari melalui mengobservasi orang lain dan aktivitas/simbol selaku contoh sebagai alat mempermudah perubahan tingkah laku. Modeling erat kaitannya dengan observational learning yang merupakan sebuah konsep bagi proses dimana dengan proses tersebut orang belajar dengan mengamati tingkah laku orang lain (yang disebut model) atau suatu teknik belajar respon-respons baru melalui mengamati kinerja orang lain (Mappiere, 2006).
Selain itu modeling juga terdapat kaitan dengan imitasi/meniru, akan tetapi meniru tidak sama dengan modeling, karena modeling bukan hanya semata meniru atau mengulangi apa yang dilakukan orang lain, dalam modeling melibatkan penambahan atau pengurangan tingkah laku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengalaman dan pengamatan sekaligus sebagai proses kognitif (Bandura dalam Alwisol, 2006:350).
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa modeling merupakan salah satu teknik konseling dimana seseorang belajar membuat dan menerapkan perilaku baru melalui proses pengamatan, mengobservasi, menggeneralisir perilaku orang lain (model), dimana dalam modeling ini juga melibatkan proses kognitif dan kreatif bukan semata-mata meniru/imitasi saja.
B. JENIS
Bandura dalam Pavin&John (1997:472) membagi jenis-jenis modeling menjadi dua, yaitu:
1. Live modeling with partisipan, penokohan langsung oleh seseorang sebagai model.
2. Symbolic model, penokohan dengan simbol seperti film dan audio visual.
Corey menjabarkan jenis meodeling menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Live models, pemokohan langsung kepada orang yang dikagumi sebagai model untuk diamati.
2. Symbolic models, menggunakan penokohan dengan simbol dai film atau audio visual lain.
3. Multiple model, penokohan ganda yang terjadi dalam kelompok dimana seseorang anggota dari suatu kelompok mengubah sikap dan dipelajari suatu sikap baru setelah mengamati bagaimana anggota-anggota lain dalam kelompok bersikap.
Cornier-cornier dalam Abimanyu (1996, 256-257) membagi jenis modeling, menjadi :
1. Modeling langsung, penokohan langsung kepada seseorang sebagai model.
2. Modeling diri sendiri, menggunakan diri sendiri sebagai model. Dapat disebut pula pengaturan diri (self regulation), dimana individu dalam kegiatan belajar mengamati perilakunya sendiri, menilai perilakunya sendiri dengan standar yang dibuat sendiri, dan memperkuat atau menghukum diri sendiri bila berhasil ataupun gagal dam berperilaku (Rifa’i dan Chatarina, 2009:113).
3. Modeling partisipan, dilakukan dengan demonstrasi model, latihan terpimppin, dan pengalaman-pengalaman sukses orang lain.
4. Modeling tersembunyi, dilakukan dengan meminta klien membayangkan suatu model melakukan tingkah laku melalui instruksi-instruksi.
5. Modeling simbolis, penokohan dengan simbol seperti film dan audio visual.
6. Modeling kognitif, prosedur konselor menunjuk apa yang dikatakan oleh orang lain pada diri mereka selagi mereka melakukan suatu tugas/perilaku.
C. TUJUAN
Menurut Bandura terdapat beberapa tujuan dari modeling, yaitu :
1. Development of new skill, artinya mendapatkan respon atau ketrampilan baru dan memperlihatkan perilakunya setelah memadukan apa yang diperoleh dari pengamatan dengan perilaku baru.
2. Facilitation of preexisting of behavior, menghilangkan respon takut setelah melihat tokoh (bagi si pengamat).
3. Changes in inhibition about self axspression, pengambilan suatu respons-respons yang diperlihatkan oleh suatu tokoh dengan pengamatan kepada model.
D. MANFAAT
Beberapa manfaat dan pengaruh dari modeling adalah sebagai berikut :
· Pengambilan respons atau ketrampilan baru dan memperlihatkannya dalam perilaku baru.
· Hilangnya respons takut setelah melihat tokoh melakukan sesuatu yang menimbulkan rsasa takut konseli, tidak berakibat buruk bahkan berakibat positif.
· Melalui pengamatan terhadap tokoh, seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu yang mungkin sudah diketahui atau dipelajari dan tidak ada hambatan.
Jones (2011:434) juga mengemukakan beberapa fungsi dari teknik modeling yaitu :
· Menghanbat dan menghilangakan atau mengurangi hambatan perilaku yang sudah ada dalam repertoar.
· Sebagai fasilitasi respons, perilaku yang dijadaikan model dapat berfungsi sebagai pengingat atau isyarat bagi orang untuk melakukan perilaku yang sudah ada dala repertoarnya.
· Membangkitkan rangsangan emosional. Orang dapat mempersepsi dan berperilaku beerbeda dalam keadaan kerenagsangan yang meningkat.
· Symbolic modeling membentuk gambaran orang tentang realitas sosial diri dengan cara itu ia memotret berbagai hubungan manusia dan kegiatan yang mereka ikuti.
E. TAHAP-TAHAP
Bandura (dalam Syamsu Yusuf, 2009:9) meyakini bahwa modeling melibatkan empat proses, yaitu sebgai berikut:
1. Attentional, yaitu proses dimana observer/individu menaruh perhatian terhadap perilaku atau penampilan model. Dalam hal ini sesorang cenderung memperhatikan model yang menarik, berhasil, atraktif, dan populer. Lebih jauh lagi Jones (2011:435) menyebutkan variabel dari attention adlah, karakteristik stimuli modeling (mencakup, ketersediaan, kekhasan, atraktivitas personal, nilai fungsional) dan karakteristik pengamat (mencakup, kapasitas sensorik, tingkat rangsang, kebiasaan perceptual, dan reinforcement sebelumnya)
2. Retention, yaitu proses yang merujuk pada upaya individu untuk memasukkan infomasi tentang model. Baik verbal maupun gmbar dn imajinasi.
3. Production, yaitu proses mengontrol tentang bagaimana anak dapat mereproduksi respons atau tingkah laku model. Kemampuan mereproduksi dapat berbentuk ketrampilan fisik atau kemampuan mengidentifikasi perilaku model.
4. Motivational, yaitu proses pemilihan tingkah laku model. Dalam proses ini terdapat faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu reinforcement dan punishment.
F. APLIKASI TERBATAS (LANGKAH-LANGKAH)
Langkah-langkah proses modeling dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut (Gantina Komalasari dkk, 2011:179):
· Menetapkan bentuk penokohan (live model, symbolic model, multiple model)
· Pada live model, pilih model yang bersahabat atau teman sebaya konslei yang memiliki kesamaan seperti usia, status ekonomi, dan penampilan fisik.
· Bila mungkin gunakan lebih dari sati model.
· Kompleksitas perilaku yang dimodelkan harus sesuai dengan tingkat perilaku konseli.
· Kombinasikan modeling dengan aturan, instruksi, behavioral rehearsal, dan penguatan.
· Pada saat konslei memperhatikan penampilan tokoh berikan penhuatan alamiah.
· Bila mungkin buat desain pelatihan untuk konseli menirukan model secara tepat, sehingga akan mengarahkan konseli pada penguatan alamiah. Bila tidak maka buat perencenaan pemberian penguatan untuk setiap peniruan tingkah laku yang tapat.
· Bila perilaku bersifat kompleks, maka episode modeling dilakukan mulai dari yang paling mudah ke yang lebih sukar.
· Scenario modeling harus dibuat ralistik.
· Melakukan pemodelan dmana tokoh menunjukkan perilaku yang menimbulkan rasa takut bagi konseli (Dengan sikap manis, perhatian, bahsa yang lembut, dan perilaku yang menyenangkan).