Pages

Selasa, 02 Agustus 2011

Mengembangkan Kecerdasan Emosional Siswa

UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DENGAN MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL SIWA

Dewasa ini, kita dihadapkan pada masalah-masalah kehidupan yang semakin kompleks. Terutama kita yang hidup di perkotaan yang sangat rentan pada perkembangan teknologi, komunikasi, dan perkembangan sosial. Perkembangan semua itu tidak selamanya membuat perubahan kehidupan kita menuju ke perbaikan, hal itu tergantung pada bagaimana kita menyikapi dan memanfaatkan perubahan tersebut bagi kehidupan kita.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perubahan yang selama ini kita rasakan, banyak yang tidak menyadari, telah merubah pola kehidupan generasi kita menjadi pribadi yang individual, materialis, dan cenderung kapitalis dengan alasan modern. Tekanan-tekanan komulatif dari kehidupan modern telah mendatangkan masalah-masalah berupa kecemasan, stress, ketakutan, marah, susah tidur, dan dan masih banyak lagi masalah lainnya. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengendalian emosi. Seseorang yang pintar dan berpengetahuan luas tak selamanya dapat mengendalikan emosi, karena kecerdasan emosionalnya kurang.
Secara umum EQ (Emotional Quotient) berperan lebih penting daripada IQ (Intelligence Quotient). Anak-anak yang tumbuh dengan EQ tinggi berani untuk mengambil karir yang menantang dan membangun hubungan yang memuaskan. Semakin banyak kalangan pendidik mengakui bahwa siswa yang menerima pendidikan akademis semata, tetapi kurang pendidikan Kecerdasan Emosional, maka kemungkinan kurang mampu menghadapi tantangan masa depan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kecerdasan emosi merupakan kunci utama dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan.

Pengertian Emosi dan Kecerdasan Emosional
Emosi adalah rangsangan untuk bertindak. Tingkat Emosi yang tinggi seperti cinta, rasa takut atau marah mudah untuk diidentifikasi. Ada beberapa emosi yang kompleks dan karena itu sulit untuk mengenalinya. Beberapa dapat berlangsung selama beberapa menit saja, tapi ada yang sampai berminggu-minggu lamanya. Emosi menggambarkam perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda. Dengan kata lain, emosi adalah naluri bertahan hidup yang penting. Semua manusia memiliki  pengalaman emosional yang sama dengan manusia lainnya, perbedaannya hanyalah masing-masing manusia memiliki kapasitas yang berbeda dalam memikirkan dan mengendalikan emosi.
Sedangkan kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) adalah penggambaran kemampuan, kapasitas, keterampilan, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.  Jadi, kecerdasan emosional adalah sebuah gambaran mental dari seseorang yang cerdas dalam menganalisa, merencanakan dan menyelesaikan masalah, mulai dari yang ringan hingga kompleks. Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa memahami, mengenal, dan memilih kualitas mereka sebagai insan manusia.

Manfaat dan Pentingnya Membangun Kecerdasan Emosional
Membangun kecerdasan emosional dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola perasaannya sendiri dan orang lain, dan menggunakan informasi tersebut sebagai pedoman untuk mempersiapkan kepada yang lebih baik, membuat keputusan yang lebih baik, berpikir lebih kreatif, memotivasi diri sendiri dan orang lain, dan menikmati kesehatan yang lebih baik, hubungan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih bahagia. Walaupun prestasi akademik sangat penting, ada banyak hal-hal lain yang lebih penting dalam hidup kita. Kestabilan emosional tidak hanya berkontribusi pada prestasi akademik, tetapi juga pada kesehatan fisik yang lebih baik, keluarga bahagia dan pengalaman kerja yang memuaskan dalam hidup kita.
Anak-anak yang memiliki Kecerdasan Emosional (EQ) yang tinggi biasanya lebih menonjol dari yang lain. Mereka lebih baik dalam mengendalikan dorongan hati, komunikasi, dalam membuat keputusan bijaksana, dalam memecahkan masalah, dan bagaimana bekerja dengan orang lain, yang mengakibatkannya lebih sehat, lebih bahagia dan lebih sukses kehidupannya.
Dibandingkan dengan IQ, EQ seorang anak bisa dipupuk oleh berbagai metode terbukti secara ilmiah. Orang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak. Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait erat dengan bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan apa yang ia pelajari tentang kebahagiaan, mencintai dan berinteraksi dengan sesamanya.
Emosi berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Kecerdasan emosional begitu penting untuk dikembangkan dan dibangun, karena kecerdasan emosional memberikan seseorang keteguhan untuk bangkit dari kegagalan, juga mendatangkan kekuatan pada seseorang untuk berani menghadapi ketakutan. Tidak sama halnya seperti kecerdasan otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir pada setiap orang dan bisa dikembangkan.
Macam-macam Kecerdasan Emosional berkaitan dengan Belajar
1.      Kecerdasan diri, mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri; memiliki tolok ukur yang realiatis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
2.      Pengaturan diri, menangani emosi kita sedemikian hingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu pulih kembali dari tekanan emosi.
3.      Motivasi, menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk meggerakkan dan menuntut kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
Langkah-Langkah Membangun Kecerdasan Emosional
Pengembangan kecerdasan emosional (EQ) bisa dipadukan dengan banyak aspek. Secara garis besar ada dua hal utama dalam kecerdasan emosi yaitu mengenali dan mengelola emosi. Emosi juga berkaitan dengan keputusan dan tindakan. Jika emosi tidak dikelola dengan baik, keputusan dan tindakan pun akan menjadi tidak baik. Kecerdasan Emosional memberikan seseorang keteguhan untuk bangkit dari kegagalan, juga mendatangkan kekuatan pada seseorang untuk berani menghadapi ketakutan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membangun kecerdasan emosional adalah sebagai berikut.
1.      Mengetahui perasaan diri sendiri. Yaitu merasakan dan mencari tahu perasaan diri, dan menggunakannya untuk membuat suatu keputusan dalam hidup atau masalah yang dihadapi.
2.      Mampu mengatur kehidupan emosional. Yaitu mampu mengatur keadaan emosional, tanpa dibajak oleh emosi-emosi negatif seperti stres, ketakutan, marah, kebingungan, dan sebagainya.
3.      Penanganan perasaan. Termasuk kemampuan membaca dan mengartikulasikan emosi yang tersirat
4.      Mengenali rasa takut dan mencoba untuk menghadapinya. Melakukan hal ini akan membangun rasa percaya diri dan dapat menjadi jaminan bahwa segala sesuatu pasti ada solusinya.
5.      Bersikap rendah hati. Mau mengakui kesalahan dalam hidup kita justru dapat  meningkatkan harga diri kita.
6.      Empati. Yaitu mencoba merasakan membaca emosi orang lain tanpa mereka memberi tahu apa yang mereka rasakan.
Jangan biarkan hal diluar diri kita mengganggu diri kita. Karena diri kita adalah tuan dari emosi kita. Kemudian agar kadar kecerdasan emosi kita semakin naik, kita harus belajar untuk mengkomunikasikan diri kita secara baik. Karena orang bisa salah tanggap jika kita keliru mengkomunikasikan diri kita. Dengan mengkomunikasi diri dengan baik, maka akan menghasilkan emosi yang baik. Yang kemudian, kita pun bisa merencanakan kesuksesan rencana hidup kita. Cara pandang terhadap dunia juga penting untuk mengubah frame kita mengenai sesuatu. Dan ini penting ketika kita ingin bertahan di dunia kerja. Ini artinya kita juga harus mau untuk melihat hal lain dari kacamata orang lain dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Terakhir cari cara sukses bagaimana kita dapat terlibat dengan orang lain. Jika perlahan- lahan kita mencoba ini dalam kehidupan kita sedikit demi sedikit maka emosi kita akan terbangun baik. Kemudian akan membuat kita mampu menjaga stamina kecerdasan emosi kita tetap produktif karena kita selalu senang, bahagia dan antusias.
Lalu, seperti apa keadaan emosional yang baik? Berikut adalah ciri-ciri keadaan emosional yang baik.
·         Dapat mengutarakan perasaan dengan jelas dan langsung
·         Lebih bisa mengendalikan dorongan-dorongan dan keinginan
·         Tidak didominasi oleh emosi negatif seperti rasa takut, kekhwatiran, rasa bersalah, rasa malu, kekecewaan, rasa putus asa, merasa tidak berdaya, pembohongan, dan putus Asa
·         Bisa menyeimbangkan perasaan dengan alasan, logika, dan kenyataan.
·         Percaya diri dan Independen (mandiri)
·         Bisa Memotivasi diri
·         Optimistis
·         Mengerti perasaan orang lain
·         Pembelajar yang baik
·         Lebih bertanggung jawab
·         Mampu bertahan melawan tekanan
·         Mampu menyelesaikan konflik dengan baik
·         Memahami rasa putus asa dengan baik
·         Tidak terlibat dalam perilaku yang merusak diri seperti narkoba, alkohol
·         Memiliki lebih banyak teman.

Schedules Of Reinforcemnt

SCHEDULES OF REINFORCEMENT
Penguatan dapat diberikan secara terus-menerus atau berkala. Jika setiap respons diikuti dengan penguatan, maka tindakan ini dinamakan pemberian penguatan secara terus-menerus (continuous reinforcemen schedules) . Sebaliknya, jika sebagian respons yang mendapatkan penguatan, maka tindakan ini dinamakan pemberian penguatan secara berantara (intermittent schedules of reinforcement).
            Terdapat beberapa macam penguatan secara berantara (intermittent schedules of reinforcement) yaitu :
1.      Interval schedules: reinforcement diberikan setelah beberapa waktu tertentu setelah perilaku berlalu/dilakukan.
·         Fixed-interval schedule: pemberian reinforcement pada interval waktu tertentu (after a fixed amount of time).
Contoh: tiap 3 menit, tiap minggu/bulan, uts/uas
        Semakin dekat jangka waktu pemberian, semakin sering respon muncul
        Jika reinforcement dihilangkan, respon lebih cepat punah pada subjek yang sebelumnya diberikan continuous reinforcement daripada intermittent reinforcement
·         Variable-interval schedule: reinforcement diberikan pada interval yang bervariasi (a random/variable time schedule)
Contoh: orang memancing ikan, kadang cepat dapat, kadang lama baru dapat.
2.      Ratio schedules: reinforcement diberikan setelah muncul sejumlah respon tertentu.
·         Fixed-ratio schedule: Reinforcement diberikan setelah munculnya sejumlah respon dari subjek (a fixed Σ of responses)
Contoh: tiap 20 respon, sales bekerja dengan sistem komisi
        Tidak dibatasi waktu munculnya respon
        Semakin banyak respon yang muncul, semakin besar peluang memperoleh reinforcement
·         Variable-ratio schedule: pemberian reinforcement didasarkan pada rata-rata jumlah respon antar reinforcement, tetapi ada variabilitas besar di sekitar rata-rata itu (variable but based on an overall average Σ of responses)
Contoh: mesin judi

Teknik Meningkatkan Perilaku (Reinforcement)


A.    TEKNIK MENINGKATKAN PERILAKU (REINFORCEMENT)
Seorang ahli behaviorisme, Skinner menyatakan bahwa perilaku akan berubah sesuai dengan konsekuensi yang diperolehnya. Konsekuensi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku dan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan memperlemah perilaku. Dengan kata lain, konsekuensi yang menyenangkan akan meningkatkan frekuensi munculnya perilaku dan konsekuensi yang tidak menyenangkan akan mengurangi frekuensi munculnya perilaku.
                  Konsekuensi yang menyenangkan pada umumnya disebut sebagai penguat (reinforcers), sementara konsekuensi yang tidak menyenagkan disebut sebagai hukuman (punisher). Reinforcement adalah segala hal yang menyertai perilaku dan berfungsi meningkatkan kemnungkinan untuk mengulangi perilaku tersebut. Penguatan merupakan unsur penting di dalam belajar karena penguatan itu akan memperkuat perilaku.
      Terdapat dua jenis Reinforcement :
1.      Reinforcement Positif
Defenisi reinforcement positif identik dengan defenisi reinforcement itu sendiri, yaitu segala hal yang menyertai perilaku dan berfungsi meningkatkan kemnungkinan untuk mengulangi perilaku. Contoh : memberikan senyum dan menyampaikan kata “bagus” kepada anak yang bertanya, hal tersebut merupakan reinforcement positif yang diharapkan akan meningkatkan perilaku sehingga anak tersebut akan bertanya lagi. Sedangkan stimulus yang timbul dan menjadi konsekuen terhadap munculnya serta beruangnya perilaku yang dikehendaki disebut reinforce. Dalma contoh diatas, yang menjadi konsekuen (Reinforcer) adalah senyuman dan kata “bagus”.
            Terdapat dua jenis reinforce :
·         Reinforcement primer (natural reinforcement)
Adalah reinforcement yang alami, tidak perlu syarat dan tidak perlu dipelajari bagi individu yang membutuhkannya. Contoh : makanan dan minuman.
·         Reinforcement Sekunder (secondary reinforcement)
Stimuli yang berhubungan dengan reinforcement positif. Terdapat tiga macam reindorcement sekunder yaitu : social reinforcement, adalah reinforce berupa penerimaan sosial, misalnya senyuman dan sapaan. Activity Reinforce adalah reinforce berupa kegiatan, misalnya anak baru boleh bermain PS setelah dia belajar dan mengerjakan tugas, dalam contoh tersebubt bermain PS adalah activity reinforce. Token Reinforce adalah reinforce menggunakan barang, misalnya anak TK yang berperilaku baik akan mendapat permen dari gurunya, dalam contoh ini permen adalah token reinforce.

2.      Reinforcement Negatif
Adalah proses peningkatan tingkah laku dengan cara mengurangi hal-hal atau stimulus yang tidak menyenangkan. Misalnya : siswa yang datang terlambat oleh gurunya dimarahi, dihari kedua siswa tersebut datang lebih terambat, oleh gurunya siswa itu dimarahi dan tidak boleh masuk kelas, dhari ketiga ternyata anak itu tidak berangkat sekolah. Dalam contoh diatas guu yang marah dan tidak boleh masuk kelas adalah reinforce negative, yang meningkatkan perilaku terlambat. Acmad Rifa’I (2009 : 121) mengungkapkan reinforce negative itu sebenarnya adalah merupakan hukuman (punishment). Reinforcemnt negative dalam proses pendidikan seyogyianya dihindari karena akan dapat meningkatkan perilaku yang tidak dikehendaki muncul.