Pages

Rabu, 21 Desember 2011

Teknik Relaksasi Desensititasi


TEKNIK-TEKNIK KONSELING
TEKNIK RELAKSASI-DESENSITISASI SISTEMATIS

A.      KONSEP DASAR TEKNIK
Relaksasi dan Desensitisasi pada hakikatnya termasuk dalam teknik behavioral classic. Menurut pendapat Cormier dan Cormier, 1985 (dalam Abimanyu dan Manrihu, 1996:320) Relaksasi dapat diartikan sebagai usaha untuk mengajari seseorang untuk relaks, dengan menjadikan orang itu sadar tentang perasaan-perasaan tegang dan perasaan-perasaan relaks kelompok-kelompok otot utama seperti tangan, muka, dan leher, dada, bahu, punggung, perut, dan kaki. Sedangkan menurut Suryani, 2000 (dalam Lutfi Fauzan, 2009) Relaksasi merupakan salah satu cara untuk mengistirahatkan fungsi fisik dan mental sehingga menjadi rileks.
Teknik relaksasi dalam konseling merupakan gabungan dari beberapa atau satu spesifik latihan relaksasi. Lebih sering merupakan combinasi dari deep breathing, muscle relaxation, and visualization techniques yang telah terbukti mampu menurunkan ketegangan otot dan tensi saat tubuh sedang mengalami stress dan kecemasan (Gardner, 2002:4). Dalam perkembangan selanjutnya teknik relaksasi juga dapat dikombinasikan dengan teknik-teknik behavioral lain seperti desensitisasi sistematis, assertion training, self management progam, meditasi, aoutogenic training dan teknik-teknik lain yang terkait, dalam relaksasi klien diberikan instruksi yang dapat membuat mereka merasa lebih relaks (Corey, 2009). Relaksasi dapat membantu menangani asma, sakit kepala, hipertensi, insomnia, irritable bowel syndrome, dan panic disorder.
Desensitisasi sistemis berlatar belakang dari prinsip-prinsip classical conditioning, yang dikembangankan oleh Joseph Wolpe dengan tujuan mengajarkan srategi menekan kecemasan dan kemampuan mengontrol diri klien (Corey, 2009; Thompson, 2003). Desensitisasi sistematis dilakukan dengan melemahkan kekuatan stimulus penghasil kecemasan dan gejala kecemasan bisa dikendalikan dan dihapus melalui penggantian stimulus, melibatkan teknik relaksasi dengan melatih konseli untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasikan (Gantina dkk, 2011:193). Klien membayangkan situasi yang membangkitkan kecemasan, dan diwakti yang sama membayangkan pula perilaku yang bertentangan dengan kecemasan tersebut (Corey, 2009). Desensitisasi  sistematis cocok digunakan untuk menangani fobia-fobia, kecemasan dan ketakutan.

B.       JENIS
Lichstein (1988, dalam Luthfi Fauzan, 2009), mengemukakan jenis-jenis teknik relaksasi antara lain:
1.      Autogenic Training
           Yaitu suatu prosedur relaksasi dengan membayangkan (imagery) sensasi-sensasi yang meyenagkan pada bagian-bagian tubuh seperti kepala, dada, lengan, punggung, ibu jari kaki atau tangan, pantan, pergelangan tangan. Sensasi-sensasi yang dibayangkan itu sepert rasa hangat, lemas atau rileks pada bagian tubuh tertentu, juga rasa lega karena nafas yang dalam dan pelan. Sensasi yang dirasakan ini diiringi dengan imajinasi yang meyenangkan misalnya tentang pemandangan yang indah, danau, yang tenang dan sebagainya.
2.      Progressive Training
           Adalah prosedur teknik relaksasi dengan melatih otot-otot yang tegang agar lebih rileks, terasa lebih lemas dan tidak kaku. Efek yang diharapkan adalah proses neurologis akan berjalan dengan lebih baik. Karena ada beberapa pendapat yang melihat hubungan tegangan otot dengan kecemasan, maka dengan mengendurkan otot-otot yang tegang diharapkan tegangan emosi menurun dan demikian sebaliknya.
3.      Meditation
           Adalah prosedur klasik relaksasi dengan melatih konsentrasi atau perhatian pada stimulus yang monoton dan berulang (memusatkan pikiran pada kata/frase tertentu sebagai focus perhatiannya ), biasanya dilakukan dengan menutup mata sambil duduk, mengambil posisi yang pasif dan berkonsentrasi dengan pernafasan yang teratur dan dalam. Ketenangan diri dan perasaan dalam kesunyian yang tercipta pada waktu meditasi harus menyisakan suatu kesadaran diri yang tetap terjaga, meskipun nampaknya orang yang melakukan meditasi sedang berdiam diri/terlihat pasif dan tidak bereaksi terhadap lingkungannya.Selain ketiga jenis di atas relaksasi juga dapat menggunakan media aroma, suara, cita rasa makanan, minuman, keindahan panorama alam dan air. Semua itu merupakan teknik relaksasi fisik/tubuh.

Sedangkan Gardner (2002) menjelaskan tentang latihan relaksasi dapat dilakukan dengan :
1.      Abdominal Breathing
Dilakukan dengan menghela nafas dengan mata terpejam dan menenangkan pikiran, dilakuakan sampai menghasilkan ketenangan dalam diri.
2.      Progressive Muscle Relaxation
Teknik relaksasi yang dilakukan dengan melibatkan dan menggerakkan berbagai komponen otot dan bagian spesifik tubuh, misalnya : lengan, kepala, tangan, bahu, atau bagian tubuh lain.
3.      Simultaneous Contractions
Konsep yang sama dengan progressive muscle relaxation akan tetapi dilakukan dengan waktu yang lebih singkat dengan gerakan simultan.
4.      Cue-controlled relaxation
Mengkombinasikan abdominal breathing dengan sugesti verbal yang menimbulkan ketenangan.
5.      Visualizing
Dengan membayangkan atapun secara langsung membuat tempat yang nyaman, tempat yang damai, dengan warna, suasana, aroma yang menenagkan.
6.      Peaceful scenes
Mendatangi langsung tempat yang dianggap nyaman, seperti danau, laut, taman, dsb.

C.      TUJUAN
Tujuan Relaksasi antara lain untuk :
·         Melegakan stress untuk penyakit darah tinggi, penyakit jantung, susah hendak tidur,sakit kepala disebabkan tekanan dan asthma.
·         Membantu orang menjadi rileks, dan dengan demikian dapat memperbaiki berbagai aspek kesehatan fisik dan aspek psikologis.
·         Membantu individu untuk dapat mengontrol diri dan memfokuskan perhatian sehingga ia dapat mengambil respon yang tepat saat berada dalam situasi yang menegangkan.

Selanjutnya Tujuan teknik desensitisasi sistematis yaitu :
·         Teknik desensitisasi sistematis bermaksud mengajar konseli untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami konseli.
·         Mengurangi sensitifitas emosional yang berkaitan dengan kelainan pribadi atau masalah sosial.
·         Menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks.
·         Menghapus tingkah laku negatif seperti kecemasan.

D.      MANFAAT
     Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan teknik relaksasi memiliki adalah sebagai berikut:
1.      Memberikan ketenangan batin bagi individu.
2.      Mengurangi rasa cemas, khawatir dan gelisah.
3.      Mengurangi tekanan dan ketegangan jiwa.
4.      Mengurangi tekanan darah, detak jantung jadi lebih rendah dan tidur menjadi nyenyak.
5.      Memberikan ketahanan yang lebih kuat terhadap penyakit.
6.      Kesehatan mental dan daya ingat menjadi lebih baik.
7.      Meningkatkan daya berfikir logis, kreativitas dan rasa optimis atau keyakinan.
8.      Meningkatkan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
9.      Bermanfaat untuk penderita neurosis ringan, insomnia, perasaan lelah dan tidak enak badan.
10.  Mengurangi hiperaktif pada anak-anak, dapat mengontrol gagap, mengurangi merokok.
11.  Mengurangi kemungkinan gangguan yang berhubungan dengan stress dan mengontrol anticipatory anxiety sebelum situasi yang menimbulkan kecemasan, seperti pada pertemuan penting, wawancara atau sebagainya
12.  Meningkakan hubungan antar personal.

Sedangkan teknik desensititasi sistematis dapat bermanfaat untuk :
1.      Menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap.
2.      Menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan.
3.      Desensitisasi sistematis sering digunakan untuk mengurangi maladaptasi kecemasan yang dipelajari lewat conditioning (seperti phobia) tapi juga dapat diterapkan pada masalah lain.
4.      Dengan teknik desensitisasi sistematis konseli dapat melemahkan atau mengurangi perilaku negatifnya tanpa menghilangkannya.
5.      Konseli mampu mengaplikasikan teknik ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus ada konselor yang memandu.
6.      Desensitisasi sistematis merupakan teknik yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif, biasanya berupa kecemasan dan disertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik, respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap.
7.      Desensitisasi sistematis sering digunakan untuk mengurangi maladaptasi kecemasan yang dipelajari lewat conditioning (seperti phobia) tapi juga dapat diterapkan pada masalah lain.
8.      Dengan teknik desensitisasi sistematis konseli dapat melemahkan atau mengurangi perilaku negatifnya tanpa menghilangkannya.
9.      Konseli mampu mengaplikasikan teknik ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus ada konselor yang memandu.

E.       TAHAP-TAHAP
Desensitisasi sistematis mempunyai tiga elemen pokok (Jones, 2011:460 ; Thompson, 2003: Corey, 2009) yaitu (1) latihan relaksasi otot dalam (2) menyusun hierarki/jenjang-jenjang stimuli yang membangkitkan kecemasan (3) setelah relaks, meminta konseli untuk membayangkan item-item dari hiererki stimuli yang membangkitkan kecemasan tersebut.
Ketiga pokok tersebut dijabarkan kedalam beberapa langkah seperti berikut :
·         Melatih relakasasi konseli dengan berlatih pengenduran otot dan bagian tubuh dengan titik berat wajah, tangan, kepala, leher, pundak, punggung, perut, dada, dan anggota badan bagian bawah.
·         Konseli mempraktikkan 30 menit setiap hari, hingga terbiasa untuk santai dengan cepat.
·         Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan.
·         Menyusun tingkat kecemasan
·         Membuat daftar situasi yang memunculkan/meningkatkan taraf kecemasan mulai dari yang paling rendah-paling tinggi.
·         Pelaksanaan desensitisasi konseli dalam keadaan santai dan mata tertutup.
·         Meminta konseli membayangkan dirinya berada pada satu situasi yang netral, menyenangkan, santai, nyaman, tenang. Saat konseli santai diminta membayangkan situasi yang menimbulkan kecemasan pada tingkat yang paling rendah.
·         Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas, dan dihentikan.
·         Kemudian dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, diminta membayangkan lagi pada situasi dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
·         Terapi selesai bila konseli mampu tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling mengelisahkan dan mencemaskan.

F.       APLIKASI TERBATAS
Dalam menerapkan teknik relaksasi kita perlu mempertimbangkan beberapa persiapan yang harus diperhatikan seperti setting lingkungan yang tenang atau tidak mengganggu, pakaian yang longgar atau tidak mengikat, perut yang tidak sedang kelaparan atau kekenyangan, serta tempat yang nyaman dan tepat untuk mengambil posisi tubuh. Bisa pula ditambahkan aromatherapy dan alunan musik klasik dalam pelaksanaan teknik relaksasi.
Posisi atau postur untuk relaksasi bebas, dapat dengan duduk di lantai atau kursi, berdiri auatupun berbaring yang penting dapat membawa konseli ke keadaan rileks atau istirahat serta berguna untuk memperbaiki postur tubuh yang salah.
Hal-hal yang dapat dilakukan oleh konselor untuk menerapkan teknik relaksasi pada konselinya:
a.       Konselor memberikan rasional kepada konseli mengenai penggunaan relaksasi
b.      Konselor menyiapkan relaksasi melalui penjelasan secara rinci tentang ruangan dan kenyamanan konseli
c.       Konselor mulai memberi contoh relaksasi otot untuk konseli. Contoh ini menunjukkan pada konseli untuk bagaimana melakukan relaksasi otot dan memungkinkan konseli dapat mengurangi rasa malunya.
d.      Konselor memberikan informasi lebih lanjut tentang relaksasi otot , mendiskripsikan sensasi-sensasi yang mungkin dirasakan konseli dan mengecek apakah konseli telah mengerti prosedur relaksasi ini sebelum berlanjut.
e.       Konselor meneruskan instruksi-instruksi untuk secara bergantian menegangkan dan merilekskan setiap kelompok otot.
·         Merelaksasikan otot tangan, dengan mengencangkan dan merelaksasikan tangan. Dilakukan beberapa kali sampai konseli merasa memahami dan lebih santai.
·         Merelaksasikan bahu, dengan mengencangkan dan mengendurkan bahu dengan.
·         Merelaksasikan otot bagian wajah/muka. Dengan mengencangkan dan mengendurkan otot bagian muka. Dapat pula mengencangkan dan mengendurkan otot bagian mata.
·         Menggerakkan kepala kebelakang, depan, dan samping.
·         Membusungkan dada, menahan nafas pada perut, dan mengeluarkan nafas secara perlahan.
·         Merelaksasikan otot bagian kaki.
f.       Konselor melakukan penilaian terhadap hasil latihan, dengan menanyakan session pertama dari latihan relaksasi itu, masalah-masalah apa yang dialami dan sebagainya.
g.      Konselor memberi tugas pekerjaan rumah, mencatatnya dalam buku, dan merencanakan pertemuan lanjutan
(adapaun aplikasi terbatas dari teknik desensitisasi sitematis adalah penjabaran langkah-langkah teknik yang telah dijabarkan diatas)

G.      KELEMAHAN DAN KELEBIHAN
Kelemahan teknik Relaksasi-Desensitisasi:
·         Kedua teknik ini memerlukan waktu yang cukup lama agar konseli dapat benar-benar merasa rileks dan merasa nyaman dari kecemasan-kecemasannya. Terlebih pada teknik desensititasi seteleh konselor meminta konseli menyusun jenjang hierarki kecemasan, dalam proses konseli tahapan-tahapan jenjang hierarki tersebut harus ditratment dulu mulai dari jenjang rendah sampai jenjang/tingkatan tertinggi.
·         Dalam relaksasi membutuhkan lingkungan yang kondusif dan sarana prasarana yang mendukung terciptanya kenyamanan dan situasi relaks.
·         Jika konselor tidak cakap dalam memberikan instruksi saat teknik relaksasi tidak dapat maksimal.
·         Dalam teknik desensititasi konselor perlu membuat format-format yang sangat detail terkait kecemasan-kecemasan konseli, sehingga teknik ini termasuk teknik yang cukup susah dilakukan.
Kelebihan teknik Relaksasi-Desensititasi:
·         Apabila dilakukan dengan tahap yang benar, teknik relaksasi dapat secara efesien terbukti menurunkan kecemasan dam ketegangan serta membuat konseli lebih relaks.
·         Secara efektif membuat konseli memahami kecemasannya dari kecemasan yang ringan sampai yang berat.

0 komentar:

Posting Komentar