TEKNIK-TEKNIK KONSELING
TEKNIK REFRAMING
A. KONSEP DASAR TEKNIK
Setiap orang mempunyai perspektif-perspektif yang berbeda, dan cara orang lain memandang segala sesuatu mungkin berbeda dengan cara kita memandang segala sesuatu. Terkadang konseli datang untuk konseling memiliki pandangan negative terhadap dunia. Sebuah frame dapat merujuk kepada suatu keyakinan, apa yang membatasi pandangan meraka tentang dunia. Mereka mengeinterpretasikan peristiwa-peristiwa saat mereke melihatnya, akan tatapi yang sering terjadi adalah mereke melihatnya dari posisi mereka yang sedang mengalami depresi atau harga diri rendah. Konselor harus cermat mendengarkan penjelasan mereka tentang peristiwa-peristiwa yang mereka ceritakan, lalau kemudian mencoba melihat peristiwa-peristiwa dan situasi tersebut dari sudut pandang konseli dan menyusun gambaran tentang hal yang mereka utarakan. Gambaran dalam benak konseli yang terbentuk dari perspektifny sendiri akan memiliki sebuah kerangka pandang yang sesuai bagi meraka karena sesuai dengan kondii hari dan sudut pandang mereka sendiri.
Terkait dengan hal tersebut, konselor dapat mengubah cara konseli memandang peristiwa-peristiwa atau situasi dengan megubah kerangka pandang (reframing) gambaran yang dijelaskan konseli. Gagasan konselor dibalik pengubahan kerangka pandang ini bukan mengingkari cara konseli melihat dunianya, tatpi menawarkan pandanya wawasan yang lebih luas terhdap dunianya (Geldard, 2011:213). Maka, jika konseli mau, mereka bisa memilih untuk memandang segala asesuatu dengan cara baru.
Reframing adalah suatu proses untuk merubah isi, atau menata ulang sebuah pengalaman, atau interpretasi sehingga pengalaman tersebut mendapatkan arti yang berbeda dari sebelumnya (Http://hypnoterapyacademy.html). Hal itu tidak akan mengubah situasi, namun dapat mengubah cara bersikap sehingga setelahnya mengubah cara dalam berprilaku (Http://wikepedia.com). Sedangkan Erhawi Woho (2004) mengemukakan reframing adalah upaya untuk membingkai ulang sebuah kejadian, dengan mengubah sudut pandang tanpa mengubah kejadiannya itu sendiri. Refraiming berhubungan dengan bagaimana cara melihatnya dan bukan apa yang dilihatnya.
Reframing merupakan salah satu metode dari pendekatan konseling kogntif bahavior yang bertujuan mereorganisair content emosi yang dipikirkannya dan mengarahkan/membingkai kembali ke arah pikiran yang rasional, sehingga kita dapat mengerti berbagai sudut pandang dalam konsep diri/konsep kognitif dalam berbagai situasi. Reframing juga dapat dilakuakn dengan mengevaluasi kembali hal-hal yang mengecewakan dan tidak menyenangkan dengan mengubah frame berfikir konseli (Froggart, dalam Gantina, 2011:222). Reframing perlu dilakukan secara sensitive dan berhati-hati, oleh karena itu reframing harus dilakukan sedemikian rupa sehingga klien dapat merasa nyaman dalam menentukan pilihan untuk menerimanya ataupun menolaknya (Tarsidi, 2009).
B. JENIS
Ada 2 (dua) jenis Reframing, yaitu :
1. Reframing Context adalah pemberian suatu pandangan baru (berbeda) sehingga sebuah peristiwa dapat memiliki nilai atau makna yang baru.
2. Reframing Content adalah pemberian suatu pandangan baru dimana dalam waktu dan kondisi yang berbeda, sebuah peristiwa yang sama dapat memiliki makna yang baru.
C. TUJUAN
Beberapa tujuan dari teknik reframing adalah:
1. Reframing dimaksudkan untuk memperluas gambaran konseli tentang dunianya untuk memungkinkannya mempersepsi situasinya secara berbeda dan dengan cara yang lebih konstruktif.
2. Memberi cara pandang terhadap konseli dengan cara pandang yang baru dan positif.
3. Mengubah keyakinan/pikiran/cara pandang konseli dari negatif irasioanl menjadi positive rasional.
4. Membingkai ulang cara pandang konseli, dari:
· A problem as an opportunity Sebuah masalah sebagai peluang
· A weakness as a strength Sebuah kelemahan sebagai kekuatan
· An impossibility as a distant possibility Sebuah kemustahilan sebagai kemungkinan yang jauh
· A distant possibility as a near possibility Kemungkinan jauh sebagai kemungkinan dekat
· Oppression ('against me') as neutral ('doesn't care about me') Penindasan ('terhadap saya') sebagai netral ('tidak peduli tentang saya')
· Unkindness as lack of understanding Perbuatan buruk karena kurangnya pemahaman.
D. MANFAAT
Beberapa manfaat penggunaan teknik reframing:
1. Dapat mengubah kerangka berfikir konseli yang awalnya negative menjadi postif.
2. Dengan adana frame berfikir yang baru akan memunculkan tindakan dan perilaku baru yang dikehendaki.
3. Menghilangkan rasa rendah diri konseli.
4. Meningkatkan kepercayaan diri konseli untuk melakukan sesuatu tindakan yang awalnya tidak berani ia lakukan.
5. Membiarkan adegan muncul di sudut pandang lain (frame) sehingga seseorang merasa lega atau mampu mengatasi situasi lebih baik.
6. Reframing dapat digunakan pada peristiwa atau kejadian yang kita alami sehari-hari yang terkadang menurut kita tidak memberdayakan agar lebih mampu menjadikan kita berdaya dan tentunya dengan cara yang lebih menyenangkan.
E. TAHAP-TAHAP
Teknik reframing dilakukan dalam sesi proses konseling untuk memeberikan dan mengubah frame berfkir konseli dengan frame dari sudut pandang yang lain yang lebih positif sehingga konseli memahami bahwa terdapat berbagai cara pandang untuk menyikapi masalah yang dihadapinya. Tekbik ini termasuk teknik yang riskan dan sensitive, sehingga dalam penggunaannya haruslah benar-benar diperhatikan dan pastikan rapport yang terbanngun antara konselor dan konseli sudah baik dan kuat. Selain itu, hal yang sangat penting terkait teknik ini adalah konselor haris benar-benar mampu menangkap secara tapat dan utuh cara pandang juga makna dari permaslahan yang disampaikan oleh konseli. Ketapatan memahami permasalahan dan cara pandang konseli melihat masalahnya akan sangat menentukan keefektifan teknik ini.
Tahap-tahap prosedur pelaksanaan teknik reframing:
1. Rasional.
Sebelum menggunakan teknik ini, terlebih dahulu dicari rasionalisasinya atau alasan mengapa menggunakan teknik ini, misalnya melihat melihat banyaknya pikiran-piran irasiolan yang dimiliki konseli hingga ia mengalami depresi. Pikiran konseli yang selalu melihat segala sesustunya negative dan tidak menyeluruh ini dapat menjadikan rasionalisasi mengapa terapi menggunakan teknik ini. Pertimbangan latarbelakang budaya juga dapat dijadikan rasional penggunaan teknik ini, efektif dan tidaknya.
2. Identifikasi.
Jika pilihan terapi untuk menggunakan teknik ini sudah matang, maka langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi pikiran-pikiran dan frame berfikir irasional konsei.
3. Menentukan Suatu Penjabaran dari system persepsi.
Tahapan ini adalah tahap yang menguji keterampilan si konselor dalam menentukan proses konseling. Hal ini didasarkan bahwa teknik ini difokuskan pada aspek kognitif, sehingga perlu adanya penjabaran secara operasional agar mudah difahami dan dimengerti oleh kedua belah pihak. Oleh sebab mengapa perlu adanya keterampilan-keterampilan dasar dalam konseling seperti lead atau question, paraphrase atau klarifikasi.
4. Mengidentifikasi persepsi alternative
Tahapan ini sudah memulai mencari alternative-alternatif persepsi lain/frame-frame lain yang terkaita bagaiman mamandang masalah yang dihadapi konseli. Konselor bersama konseli mencari persepsi-persepsi yang terluapakan atau tidak disadari oleh klien.
5. Modifikasi.
Pada tahapan ini konselor memulai “memodifikasi” atau mempengaruhi pikiran-pikiran klien dengan persepsi-persepsi baru yang telah mereka temukan.
6. Homework assignment dan Follow up.
Pada tahapan ini konselor memberi “tugas-tugas rumah” atau pekerjaan atas dasar persepsi-persepi atau sudut pandang yang ditemukan tadi, dimana klien harus atau diupayakan semaksimal mungkin agar konseli bersedia untuk melakukan atas kesadaran dan persetujuan klien itu sendiri. Dengan menyadari esensi tugas tersebut klien akan memilki tujuan yang jelas mengapa ia harus melakukan atau mengerjakan “tugas rumah” tersebut. Sedangkan follow up adalah tindak lanjut yang diberikan oleh konselor menyikapi pemberian homework reframing.
0 komentar:
Posting Komentar