Pages

Rabu, 27 Juni 2012

Mekanisme Pertahan Ego (Ego Defence Mechanisms)


MEKANISME PERTAHAN EGO
(EGO-DEFENSE MECHANISMS)

            Dalam pandangan psikoanalisis, Freud (1856-1939) memandang kepribadian manusia terdiri dari tiga hal yaitu : struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, dan superego, dinamika kepribadian yaitu dinamika pergerakan antara id, ego, dan superego, dan perkembangan kepribadian yaitu perkembangan psikoseksual. Dalam struktur kepribadian, bagian yang memiliki kontak dengan realitas dunia luar, dan bertindak sebagai eksekutif yang mengatur, mengontrol, meregulasi kepribadian adalah ego. Ego dilihat sebagai satu-satunya unsur yang rasional dalam struktur kepribadian manusia (Gibson & Mitchell, 2011:208). Ego sendiri memiliki tiga fungsi (Gantina dkk, 2011:64), yaitu berkenaan dengan prinsip kenyataan (reality principles), pengujian terhadap kenyataan (reality testing), dan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mecahanism).
Dinamika kepribadian, menurut pandangan psikoanalisis terjadi hubungan bahkan konflik antara id, ego, dan superego, sehingga menimbulkan kecemasan. Kecemasan adalah variabel penting sebagai dampak dari konflik yang menjadi bagian dari kehidupan dan perkembangan kepriadian yang tak terhindarkan, merupakan peringatan dan rekasi universal individu terhadap situasi bahaya dan ego sebagai satu-satunya tempat kecemasan (Jones, 2011:44 ; Alwisol, 2011: 22). Sehubungan dengan hal tersebut mekanisme pertahan ego (ego defense mechanisms) membenu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terancamnya ego. Mekanisme pertahan ego memiliki dua karaketristik, yaitu : (1) menyangkal realitas atau (2) mengganti realitas (distort rality).
Clark (1991, dalam Gantina 2011:71) mendefenisikan mekanisme pertahanan sebagai gangguan ketidaksadaran dari realitas yang bertujuan untuk mengurangi efek yang menyakitkan dan konflik melalui respon yang otomatis dan sudah menjadi kebiasaaan. Mekanisme pertahan ego bersifat spesifik, tidak disadari (unconscious) usaha untuk beradaptasi yang digunakan untuk menyelesaikan konflik dan memberikan kelegaan terhadap kecemasan.
Terdapat beberapa jenis mekanisme pertahanan diri. Menurut Freud, jarang ada orang yang memakai hanya satu mekanisme pertahananan untuk melindungi diri dari kecemasan. Umumnya orang memakai beberapa mekanisme pertahanan, baik secara bersama-sama atau secara bergantian sesuai dengan bentuk ancamannya (Alwisol, 2011:23). Beberapa mekanisme pertahanan diri dijelaskan sebagai berikut :
1.      Identification
Identifikasi merupakan cara mereduksi ketegangan dengan meniru (melakukan imitasi) atau mengidentifikasi diri dengan orang lain yang dianggap berhasil memuaskan hasratnya dibanding dirinya. Individu mungkin melakukan imitasi beberapa karakteristik dari model atau mengkopi seluruh karakteristik modelnya.
Contohnya: Perilaku meniru seorang artis/bintang film sebagai proses untuk meningkatkan harga diri dan menekean perasaan rendah diri, sehingga lebih bangga pada dirinya sendiri.

2.      Displacement
Displacement merupakan tindakan menjauh/mengalihkan/memindahkan dari suatu objek untuk mendekati objek lain yang kurang begitu terasa mengancam atau kurang menghasilkan kecemasan (memindahkan ke objek yang lebih aman). Sumber dan tujuan dari insting selalu tetap, tetapi obyeknya yang berubah-ubah melalui displacement. Terdapat tiga macam raksi displacement yaitu :
·         Sublimasi
     Adalah dorongan yang tidak dibenarkan oleh super ego tetap dilakukan dalam bentuk tingkah laku yang sesuai dengan tuntutan masyarakat (Gantina dkk, 2011:75). Misalnya : orang bertinju sebagai sublimasi dari dorongan agresi.
·         Substitusi
     Adalah pemindahan atau kompromi di mana kepuasan yang diperoleh masih mirip dengan kepuasan aslinya (Alwisol, 2011:25). Misalnya : remaja yang cemas dalam menyalurkan energy seksnya mengganti dengan melihat film porno.
·         Kompensasi
     Adalah usaha untuk menutupi kelemahan di satu bidang dengan membuat prestasi di bidang lain, sehingga ego terhindar dari ejekan atau rasa rendah diri. Misalnya: seorang laki-laki yang tidak pintar dalam hal akademik akan tetapi pintar dalam hal agam sehingga orang kagum kepadanya.

3.      Repression dan suppression
Represi adalah proses ego memakai kekuatan anticathexes untuk menekan segala sesuatu (ide, insting, ingatan, pikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran. Represi mendorong memori, konflik, ide dan persepsi yang berbahaya dan mengancam ego dari alam kesadaran ke alam ketidaksadaran dan menempatkan penutup untuk mencegah hal-hal yang telah masuk ke alam ketidaksadaran muncul kembali.
Represi dimaksudkan untuk melupakan sesuatu dan tetap tidak menyadari bahwa dirinya melakukan hal itu. Represi ada dua macam yaitu materi yang ada di tingkat pra-sadar dan materi yang ada di tingkat ketidaksadaran (Richard N. Jones, 2011:52). Sedangkan supresi adalah usaha sadar untuk melakukan hal yang sama dengan represi (Thompson, 2004, dalam Gantina Komalasari, 2011).

4.      Fictation and Regression
Fixasi adalah terhentinya perkembangan normal pada tahap perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang sangat kuat. Contoh: ketakutan akan kemandirian akan financial pada orang dewasa memnuatnya tetap tinggal dengan orang tua.
Sedangkan regresi adalah usaha untuk menghindari kegagalan atau ancaman terhadap ego, individu mundur kembalai ke taraf  perkembangan lebih rendah. Contoh: perempuan yang baru menikah dan tidak cocok dengan suaminya yang memilih untuk pulang kembali ke rumah oran tua.

5.      Reaction formation
Pembentukan reaksi adalah tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan yang berlawanan atau kebalikannya dalam kesadaran. Dapat pula pengembangan sikap, karakter atau sikap sadar (conscious attitude) yang sangat berbeda dari perasaan yang sebenarnya telah ditekan. Misalnya: benci diganti cinta, bermusuhan diganti ekspresi berteman, dsb.
Pembentukan reaksi dimaksudkan untuk mengadopsi pikiran, perasaan, dan perilaku yang berlawanan dengan pikiran dan perasaan yang sebenarnya (Richard N. Jones, 2011:52).

6.      Projection
Proyeksi adalah melakukan atribusi pada karakteristik orang lain di luar diri (Thompson, 2004, dalam Gantina Komalasari, 2011). Hal ini dilakukan karena superego melarang individu mengatribusikan pikiran, perasaan, motif yang tidak dapat diterima dengan memproyeksikan terhadap orang lain. Proyeksi disebut juga mekanisme mengubah kecemasan neurotik atau moral menjadi kecemasan realistis, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke obyek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu terproyeksi dari obyek eksternal kepada diri orang itu sendiri.
Contohnya: “saya membenci dia” menimbulkan kecemasan neurotic diproyeksikan menjadi “ dia mebenci saya”, “ saya tidak suka dengan guru tersebut” diproyeksikan “guru saya tidak menyukai saya karena bodoh”.

7.      Rationalization
Rasionalisasi merupakan cara untuk member alasan-alasan yang masuk akal sebagai usaha untuk mempertahankan sebagian egonya sehingga seolah-olah dapat dibenarkan. Cara ini membantu mengurangi ledakan yang akan dirasakan dan juga memberi peluang kepada ego untuk berlindung di balik alasan yang diberikan. Misalnya: seorang dosen yang terlambat masuk kuliah beralasan bahwa sedanga sibuk dan sedan ada urusan yang penting.

8.      Denial
Penyangkalan adalah menolak kenyataan, menolak stimulus atau persepsi realistik yang tidak menyenangkan dengan menghilangkan atau mengganti persepsi itu dengan fantasi atau halusinasi. Denial menghilangkan bahaya yang datang dari luar dengan mengingkari/menganggap bahaya itu tidak ada. Penyangkalan merupakan respon defensif, individu menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan dan biasanya beroperasi pada taraf prasadar atau sadar. Contoh: Seorang lelaki yang tidak percaya bahwa sudah tdak ada lagi hubungan dengan kekasihnya melakukan penyangkalan dengan tetap menganggap sebagai kekasihnya.

9.      Introjections
Introyeksi adalah suatu bentuk pertahanan diri yang dilakukan dengan mengambil alih nilai-nilai dan standar orang lain baik positif maupun negatif (Loekmono, 2003, dalam Gantina Komalasari, 2011). Contoh: seorang anak yang dididik secara keras pada waktu kecil setelah menjadi orang tua mendidik anaknya secara keras pula.

0 komentar:

Posting Komentar